Menu

Ajak Cintai Literasi Sedari Usia Dini

Ajak Cintai Literasi Sedari Usia Dini

Ajak Cintai Literasi Sedari Usia Dini

 

Ajak Cintai Literasi Sedari Usia Dini

BANDUNG, DISDIK JABAR

Ambu tiba diruang kelas. Hari itu ia diberi kesempatan untuk mengajar di SLB Cicendo, Kota Bandung. Seperti biasa, Ambu menyapa para siswa dengan tutur kata yang ramah.
“Halo, dengar anak-anak semuanya,” ucap

Ambu berusah a mengambil perhatian anak-anak yang sedang asyik bermain di kelas

“Haloo, hai,” ungkap Ambu menegaskan. Alih-alih  memperhatikan, para siswa tetap abai terhadap kehadiran Ambu di kelas.

Kemudian, seorang guru yang mendampingi Ambu di kelas berseloroh, “Ambu, bade jojoran tepi gagung parahu nangkarak ge moal kadungu.” Sekita Ambu mengucap istigfar, ia lupa bahwa siswa yang ada dihadapannya adalah siswa tunarungu.

Itu salah satu pengalaman lucu ambu ngajar siswa inklusi

Dari sana, Ambu mulai kuasai ilmu bahasa tubuh yang pernah dulu ibu tekuni pas kerja, agar bisa dipahami oleh mereka,” tutur Ambu saat ditemui baru-baru ini.

Setelah perpustakaannya kokoh berdiri, visi Ambu Rita berkembang

Ia ingin membuat anak-anak mencintai dan mulai membaca buku, seperti Rita kecil dulu. Maka, Ambu pun mulai membuka kelas untuk anak-anak disekitar rumahnya untuk mengenalkan literasi baca pada anak-anak tanpa memandang dari keluarga seperti apa mereka berasal

Ambu cari dan rangkul semua anak-anak disekitar rumah

Dari mulai anak tukang rongsok, anak pembantu rumah tangga, anak tukang langganan sayur,” ungkap Ambu.

Tugas Ambu menjadi berlipat karena buku yang mendominasi perpustakaanya adalah buku berbahasa inggris, tak terkcuali buku anak. Namun, Ambu tak patah arang dan merasa lebih tertantang agar bisa selain membuat anak-anak menicntai buku, juga mampu mengenal bahasa inggris sedini mungkin.

Ambu memiliki cara sendiri untuk membuat anak-anak tekun membaca dan mempelajari bahasa inggris, yakni dengan pendekatan buku cerita. “Ambu mulai dengan membacakan buku cerita bahasa inggris. Ambu ceritakan dari awal sampai akhir dengan menterjemahkannya sendiri.

Dipertemuan selanjutnya, Ambu hanya bacakan mereka setengah cerita.

Ketika mereka minta untuk dilanjutkan, Ambu pancing mereka dengan bertanya,

“Kalau mau tau lanjutannya baca sendiri ya, kalau kalian belum bisa, mau ya belajar bahasa inggris sama Ambu?.” Serempak anak-anak pun mengiyakan ajakannya.

Mulai dari sana, anak-anak tersebut mulai mengenal dasar-dasar percakapan berbahasa inggris. Sampai hari ini, kegiatan mengajar bertajuk Sunday Class konsisten dilakukan sampai saat ini.

Semua anak punya hak

Tak hanya anak-anak di sekitar lingkungannya saja, Ambu juga mengayomi anak-anak lainnya tanpa memandang kekurangan dan status mereka di masyarakat. Selain mengajar hari minggu di perpustakannya, setiap kamis Ambu juga mengajar di Lembaga Pembinaan Khusus

Anak (LPKA) Sukamiskin, Rabu di SLB Cicendo dan Jumat mengajar anak jalanan di Taman Jomblo, Jembatan Pasupati. Ambu beri sentuhan afeksi sekaligus kognisi kepada mereka agar dapat mengeyam literasi membaca sedini mungkin.

“Semua anak punya hak untuk belajar. Ambu enggak takut ketika keluarga Ambu khawatir karena Ambu ngajar di Lapas Anak. Ambu yakin mereka punya sisi baik. Dan ketika mereka keluar dari Lapas nanti, Dengan mengajarkanya Ambud isini, Ambu ingin mereka menjadi pribadi yang lebih baik,” tutur Alumni SMAN 3 Bandung tersebut.

Ambu juga mengatakan  semua anak memiliki kelebihannya masing-masing. Maka dari itu, Ambu sangat menentang jika ada sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata anak inklusi dan anak-anak yang termarjinalkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memposisikan diri saat bersama mereka dan menemukan metode ajar yang tepat agar mampu diterima dengan baik oleh anak-anak.

 

Sumber : https://pengajar.co.id/