Menu

Pengertian,Tujuan, Ciri-Ciri, dan Contoh Politik Bebas Aktif

Pengertian,Tujuan, Ciri-Ciri, dan Contoh Politik Bebas Aktif

Pengertian,Tujuan, Ciri-Ciri, dan Contoh Politik Bebas Aktif

Pengertian,Tujuan, Ciri-Ciri, dan Contoh Politik Bebas Aktif

Pengertian,Tujuan, Ciri-Ciri, dan Contoh Politik Bebas Aktif

a. Pengertian Politik Bebas Aktif Indonesia

Pengertian Politik Bebas Aktif Indonesia Adalah
Sebagaimana telah diuraikan
terdahulu, rumusan yang ada pada
alinea I dan alinea IV Pembukaan UUD
1945 merupakan dasar hukum yang
sangat kuat bagi politik luar negeri RI.
Namun dari rumusan tersebut, kita
belum mendapatkan gambaran mengenai
makna politik luar negeri yang bebas
aktif. Karena itu dalam uraian ini akan
dikutip beberapa pendapat mengenai
pengertian bebas dan aktif. A.W Wijaya
merumuskan: Bebas, berarti tidak terikat
oleh suatu ideologi atau oleh suatu politik
negara asing atau oleh blok negara-negara tertentu, atau
negara-negara adikuasa (super power). Aktif artinya
dengan sumbangan realistis giat mengembangkan
kebebasan persahabatan dan kerjasama internasional
dengan menghormati kedaulatan negara lain.
Sementara itu Mochtar Kusumaatmaja merumuskan
bebas aktif sebagai berikut :
Bebas : dalam pengertian bahwa Indonesia tidak
memihak pada kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya
tidak sesuai dengan kepribadian bangsa sebagaimana
dicerminkan dalam Pancasila. Aktif : berarti bahwa
di dalam menjalankan kebijaksanaan luar negerinya,
Indonesia tidak bersifat pasif-reaktif atas kejadiankejadian
internasionalnya, melainkan bersifat aktif .
B.A Urbani menguraikan pengertian bebas sebagai
berikut : perkataan bebas dalam politik bebas
aktif tersebut mengalir dari kalimat yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai berikut : supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas. Jadi menurut
pengertian ini, dapat diberi de nisi sebagai “berkebebasan
politik untuk menentukan dan menyatakan
pendapat sendiri, terhadap tiap-tiap persoalan internasional
sesuai dengan nilainya masing-masing tanpa
apriori memihak kepada suatu blok”

b. Tujuan Politik Luar Negeri Republik Indonesia

Di dalam dokumen yang berhasil disusun oleh
pemerintah yang dituangkan di dalam Rencana Strategi
Politik Luar negeri Republik Indonesia (1984-1989)
antara lain dinyatakan bahwa politik Luar negeri suatu
negara hakekatnya merupakan salah satu sarana
untuk mencapai kepentingan nasional. Sedangkan di
Indonesia, jika dicermati, rumusan pokok kepentingan
nasional itu dapat dicari dalam alinea IV Pembukaan
UUD 1945, yaitu bahwa bangsa Indonesia diamanatkan
untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia
yang menyelenggarakan empat fungsi sebagai berikut :
1) Fungsi Hankam, dalam hal ini adalah melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia.
2) Fungsi Ekonomi, yaitu memajukan kesejahteraan
umum.
3) Fungsi Sosial dan Budaya, yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa.
4) Fungsi Politik, yaitu pada rumusan kalimat … ikut
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Ke empat fungsi pokok tersebut sesungguhnya
sekaligus juga merupakan tujuan nasional bangsa
Indonesia.

c. Ciri-ciri Politik Bebas Aktif Republik Indonesia

Dalam berbagai uraian tentang politik Luar Negeri
yang bebas aktif , maka Bebas dan Aktif disebut sebagai
sifat politik luar negeri Republik Indonesia. Bahkan di
belakang kata bebas dan aktif masih ditambahkan
dengan sifat-sifat yang lain, misalnya anti kolonialisme,
anti imperialisme.
Dalam dokumen Rencana Strategi Pelaksanaan
Politik Luar Negeri Republik Indonesia (1984-1989) yang
telah ditetapkan oleh Menteri Luar Negeri RI tanggal
19 Mei 1983, dijelaskan bahwa sifat Politik Luar Negeri
adalah: (1) Bebas Aktif …. (2) Anti kolonialisme … (3)
Mengabdi kepada Kepentingan Nasional dan … (4) Demokratis.
Dalam risalah Politik Luar Negeri yang disusun
oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
(Litbang) Masalah Luar Negeri Departemen Luar Negeri,
Suli Sulaiman ….yang disebut sifat politik luar negeri
hanya Bebas Aktif serta anti kolonialisme dan anti
Imperialisme. Sementara M. Sabir lebih cenderung untuk
menggunakan istilah ciri-ciri dan sifat secara terpisah.
Menurut M Sabir, ciri atau ciri-ciri khas biasanya disebut
untuk sifat yang lebih permanen, sedangkan kata sifat
memberi arti sifat biasa yang dapat berubah-ubah.
Dengan demikian karena bebas dan aktif merupakan
sifat yang melekat secara permanen pada batang tubuh
politik bebas aktif, penulis menggolongkannya sebagai
ciri-ciri politik bebas-aktif sedangkan Anti Kolonialisme
dan Anti Imperialisme disebutnya sebagai sifat.

d. Contoh/pelakasanaan Politik Bebas Aktif Indonesia

Partisipasi aktif Indonesia dalam upaya mewujudkan
perdamaian dunia telah ditunjukkan dengan keikutsertaan
dalam setiap Operasi Pemeliharaan Perdamaian (OPP) PBB
melalui pengiriman Konting kin meningkatnya jumlah
OPP PBB, peran serta Indonesia dalam OPP PBB selama
beberapa tahun terakhir justru mengalami penurunan.
Dalam kaitan ini, dipandang perlu pembentukan suatu
Pusat OPP Nasional (National Peacekeeping Center) sebagai
suatu mekanisme kerja yang melakukan fungsi koordinatif
inter-departemen secara teratur, terencana, terpadu dan
berkelanjutan dalam penyelenggaraan pelatihan personel
untuk mempersiapkan kontingen militer, polisi dan sipil
dalam misi perdamaian PBB. Dan pada November tahun
2006 Indonesia mengirim Konga ke Lebanon. Sampai
sekarang kita sudah mengirimkan pasukan Konga XXIII B
ke Lebanon
a. Saat ini Indonesia menjadi anggota di lebih dari 170
organisasi internasional. Jumlah kewajiban kontribusi
Pemerintah RI sehubungan dengan partisipasinya
dalam keanggotaan pada organisasi internasional untuk
tahun 2004 adalah sebesar + Rp. 140 milyar.
b. Dalam memberikan perlindungan dan bantuan hukum
khususnya kepada TKI, selama tahun 2004 Pemerintah
telah mengadakan serangkaian perundingan untuk
mewujudkan MoU, antara lain: antara RI dan Uni
Emirat Arab (UAE) mengenai Penempatan TKI ke UAE
yang menegaskan hak dan kewajiban TKI dan pengguna
jasa; RI dan Malaysia mengenai Penempatan TKI di
Sektor Formal ke Malaysia yang didasari oleh keinginan
untuk menertibkan penempatan dan perlindungan TKI
sektor formal di luar negeri; serta RI dan Korea Selatan
tentang pengiriman TKI ke Korea Selatan yang mengatur
proses rekrutmen, pengiriman dan pemulangan
TKI.
Kalian tentunya masih ingat apa sifat politik luar negeri
Indonesia. Bebas aktif kan? Dalam rangka mewujudkan
politik luar negeri yang bebas dan aktif itulah, maka
Indonesia memainkan sejumlah peran dalam percaturan
internasional. Peran yang cukup menonjol yang dimainkan
oleh Indonesia adalah dalam rangka membantu mewujudkan
pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional.
Dalam hal ini Indonesia sudah cukup banyak pengirimkan
Kontingen Garuda (KONGA) ke luar negeri. Sampai sekarang
ini Indonesia telah mengirimkan kontingen Garudanya
sampai dengan kontingen Garuda yang ke duapuluh tiga
(XXIII).
Secara garis besar kontingen garuda yang telah
dikirim ke luar negeri secara berturut-turut adalah :
1. Konga I bertugas di Mesir, yang dikirim
pada bulan Nopember l956, dengan
tugas mengamankan dan mengawasi
genjatan senjata di Mesir.
2. Konga II dikirim pada bulan September
l960 yang bertugas di Kongo. Tugas ini
diembannya sampai bulan Mei l961.
3. Konga III dikirim ke Kongo pada bulan
Desember l963 sampai Agustus l964.
4. Konga IV, Konga V dan Konga VII di kirim ke Vietnam,
dan bertugas mulai bulan Januari l974.
5. Konga VI, dikirim ke Sinai, Mesir, bertugas dari bulan
Agustus l973 sampai April l974.
6. Konga VIII, ke Sinai, Mesir, pada bulan September
l974.
7. Konga IX, ke Irak-Iran, pada bulan Agustus l988 sampai
bulan Nopember l990.
8. Konga X, ke Namibia, pada bulan Juni l989 sampai
Maret l990.
9. Konga XI, ke perbatasan Irak-Kuwait, pada bulan April
l991 sampai Nopember l991.
10. Konga XII, ke Kamboja, pada bulan Oktober l991 sampai
Mei l993.
11. Konga XIII, ke Somalia, pada bulan Juli l992 sampai
April l993.
12. Konga XIV, ke Bosnia Herzegovina, bulan Nopember
l993 sampai Nopember l995.
13. Konga XV, ke Georgia, bulan Oktober l994 sampai
Nopember l995.
14. Konga XVI, ke Mozambik, tahun l994.
15. Konga XVII, ke Philipina, Oktober l994 sampai Nopember
l994.
16. Konga XVIII, ke Tajikistan, Nopember l997.
17. Konga XIX, yang terdiri atas XIX-1, XIX-2, XIX-3 dan
XIX-4, bertugas di Siera Leone, mulai l999 sampai
2002.
18. Konga XX, bertugas di Republik Demokratik Kongo,
tahun 2005.
19. Konga XXI-XXIII , bertugas di Lebanon, 2006- sampai
sekarang.
Selain pengiriman Kontingen Garuda,
Indonesia juga mempunyai sumbangan yang
cukup berarti bagi penyelesaian sengketa yang
terjadi di Kamboja, dengan menyelenggarakan
Pertemuan Informal Jakarta (Jakarta Informal
Meeting) I dan II. Indonesia juga menjadi
anggota tidak tetap Dewan Keamanan
PBB, menjadi anggota Badan Tenaga Atom
Internasional. Salah seorang putra terbaik Indonesia juga
pernah memegang jabatan Presiden Majelis Umum PBB
yaitu Adam Malik tahun 1971.
Indonesia juga menjadi sponsor dan sekaligus tuan
rumah diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika di
Bandung tahun l955; menjadi salah satu sponsor lahirnya
Gerakan Non Blok, juga sponsor lahirnya organisasi
regional Asia Tenggara “ASEAN” 8 Agustus 1967di Bangkok-
Thailand.
Apa yang diuraikan adalah sejumlah contoh yang
menggambarkan bagaimana peranan Indonesia di dalam
percaturan internasional.

Baca Artikel Lainnya: