Menu

Menguatkan Kepemimpinan Di Era Generasi Milenial

Menguatkan Kepemimpinan Di Era Generasi Milenial

Tanoto Foundation, organisasi filantropi, pada hari ini mengenalkan program “TELADAN”, suatu program pengembangan kepimpinan yang dirancang guna membekali generasi muda Indonesia menjadi pemimpin masa depan.

Peluncuran program TELADAN dilaksanakan oleh CEO Global Tanoto Foundation J Satrijo Tanudjojo, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga Prof Faisal Abdullah, serta Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Misbah Fikrianto di Jakarta, Rabu, 6 September 2018.

Diharapkan melewati program ini, organisasi yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto dapat menyerahkan kontribusi dalam menyokong kepemimpinan generasi muda yang dominan  pada masyarakat.

Faisal Abdullah dalam peluang tersebut pun memberikan apresiasi untuk Tanoto Foundation yang sudah turut berpatisipasi menyukseskan Asian Games 2018 lalu. Ia bercita-cita program yang dijalankan Tanoto Foundation ini bisa menjadi pemicu lahirnya kepemimpinan di Indonesia secara masif dan terencana.

1. Tantangan mutu edukasi di Indonesia

Satrijo Tanudjojo dalam sambutan menyampaikan sejumlah tantangan yang sedang dihadapi dunia edukasi Indonesia. “Dari data hasil tes PISA tahun 2015, keterampilan literasi baca, tulis dan matematika anak Indonesia masih paling rendah. Kita masih sedang di posisi 66 dari 72 negara. Masih jauh di bawah Malaysia yang menduduki posisi 40 dan Singapura yang sedang di posisi kesatu,” jelas Satrijo.

Salah satu hal penyebab, tambah Satrijo, ialah masih tingginya angka stanting di Indonesia. “Bayangkan, 4 dari 10 anak di Indonesia merasakan stanting. Angka ini paling tinggi dan memprihatinkan. Itu berarti bakal ada 4 sumber daya insan Indonesia yang andai tidak segera dirapikan akan menjadi beban dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 nanti,” kata Satrijo.

Hal berikut mendorong Tanoto Foundation yang semenjak berdiri tahun 1981 memusatkan diri dalam pengembangan 3 pilar komitmen yaitu Lingkungan Pembelajaran, Pengembangan Kepemimpinan dan Riset Medis.

“Kami menyokong pengembangan edukasi anak umur dini dan edukasi dasar menengah serta menguatkan ekosistem pendidikan melewati perbaikan kapasitas pengelolaan dan kepemimpinan sekolah, serta penambahan kapasitas guru. Termasuk di antaranya mengerjakan pendampingan terhadap 51 ribu murid dan 5.100 guru,” tambahnya.

2. Membangun kepemimpinan generasi milenial

Dalam peluang panel diskusi Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Misbah Fikrianto menekankan pentingnya membina 3K dalam mencetuskan kepemimpinan di kalangan generasi muda.

“Tiga urusan itu ialah¬†www.pelajaran.id Kompetensi, Karakter dan Kompetisi. Kompetensi adalah proses pembelajaran yang terus berjalan tetapi karakter memerlukan proses panjang baik dalam pembentukan karakter profesional dan karakter integritas,” jelas Misbah.

Misbah menambahkan, persaingan akan mendorong lahirnya mahasiswa yang mempunyai kompetensi dan berdaya saing global. Untuk tersebut ia menginginkan adanya sinergi pemerintah dan filantropi edukasi dalam membuat inovasi program-program yang kreatif.

Margaretha Ari Widowati, Deputy Head of Program Tanoto Foundation yang pun tampil sebagai di antara narahubung dalam diskusi itu menekankan pentingnya mencetuskan kepemimpinan yang memberi akibat positif untuk masyarakat.

“Melalui program TELADAN ini kami tidak melulu berfokus pada beasiswa saja. Kami terpanggil guna memberi peluang mahasiswa berprestasi guna mengembangkan potensi dan pun mendorong mereka aktif menjalankan pekerjaan sosial sebagai format kontribusi untuk masyarakat,” jelas Ari Widowati.

Dengan program holistik ini ia meyakini, penerima program TELADAN tidak saja menjadi pemimpin di masyarakat namun pun menjadi pemimpin yang peduli, bertanggungjawab dan berwawasan internasional.

3. Tantangan generasi “follower” teknologi

Dalam diskusi tersebut, Misbah pun mengingatkan untuk para mahasiswa guna tidak melulu melihat teknologi sebagai “bahan mainan” saja. “Jangan melulu menjadi pemakai atau ‘follower’ teknologi. Jadikan teknologi ini malah menjadi sarana untuk mengerjakan inovasi dan berkreasi,” harapnya.

Hal ini, tambah Misbah, melulu dapat terwujud bila generasi muda mempunyai 3 literasi yang dibutuhkan. “Generasi milenial mesti mempunyai literasi data, literasi teknologi dan literasi insan untuk siap menghadapi kendala era industri 4.0,” tegas Misbah.

Ari Widowati dalam penutupnya menginginkan generasi milenial guna menghargai proses dan tidak tergoda guna selalu menggali jalan gampang dan instan. Ia menyuruh generasi milenial tidak melulu mengembangkan kepintaran saja tapi pun membangun karakter supaya dapat menjadi pemimpin masa mendatang yang dapat menyerahkan kontribusi positif untuk komunitas dan masyarakat lokasi mereka bermukim dan bekerja.